Menu

Mode Gelap

Berita 23:48 WIB

Sejarah dan Filosofi Lomba Panjat Pinang


					Perlombaan panjat pinang yang diadakan pada 17 Agustus tahun lalu di Desa Pungguk Meranti, Kepahiang. (Foto: Ef) Perbesar

Perlombaan panjat pinang yang diadakan pada 17 Agustus tahun lalu di Desa Pungguk Meranti, Kepahiang. (Foto: Ef)

Kilas.co.id – Lomba panjat minang salah satu lomba yang dinanti-nanti pada saat melaksanakan perayaan 17 Agustus dalam peringati Kemerdekaan Republik Indonesia. Masyarakat selalu antusias saat mengikuti, begitu juga penontonya.

Peserta yang mengikuti lomba panjat pinang, harus bekerja keras untuk mendapatkan hadiah yang sudah diletakan diatas. Karena, dalam lomba panjat pinang ini, pohon pinang yang sudah dikupas dan ditanamkan lalu diberi pelumas seperti oli. Sehingga harus membutuhkan tim yang kuat untuk menahan beban dan tim yang pandai memanjat dalam keadaan licin.

Lomba panjat pinang ini ternyata memiliki sejarah yang panjang dan filosofi mendalam. Dilansir dari dari berbagai sumber, lomba panjat pinang ini ternyata sudah ada sejak penjajahan Belanda terutama pada tahun 1930 an. Pada saat itu lomba panjat pinang diperlombakan pada perayaan-perayaan tertentu seperti perayaan pernikahan, kenaikan jabatan hingga ulang tahun. Sampai saat ini lomba tersebut masih eksis dikalangan rakyat Indonesia.

Dalam sejarahnya pada zaman penjajahan Belanda, panjat pinang merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan untuk memperingati Koninginnedag atau hari ratu. Momen perayaan ini digelar setiap tanggal 31 Agustus sebagai peringatan kelahiran ratu Belanda, Wilhelmina Helena Pauline Marie van Orange-Nassau.

Baca juga: https://www.kilas.co.id/sejarah-lomba-17-agustus/

Di momen ini, semua lapisan masyarakat di Hindia Belanda (Indonesia) diminta untuk berkumpul mengikuti festival, karnaval, hiburan, pasar kaget dan juga termasuk lomba panjat pinang. Gelaran panjat pinang ini disebut oleh masyarakat Belanda sebagai de Klimmast yang berarti memanjat tiang.

Pada saat itu, peserta panjat pinang hanya diikuti orang pribumi. Sedangkan meneer-meneer Belanda sebagai penonton akan tertawa melihat warga lokal yang mati-matian membuat tangga hidup memanjat batang pinang.

Panjat pinang memiliki filosofi yang mendalam. Menurut Fandy dalam bukunya filosofi panjat pinang pertama, panjat pinang mengajarkan untuk berjuang dalam mencapai kemerdekaan. Kedua, dalam satu regu pemain butuh kerjasama, kecerdikan, dan saling menopang. Ketiga, menyingkirkan ego pribadi untuk mencapai kemerdekaan. Keempat, hasil kemerdekaan dibagi rata dalam masyarakat.

Penulis: Ferri PJ

Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

Dewan Ingatkan Pemudik Untuk Mengedepankan Kewaspadaan Saat Mudik Lebaran

13 April 2024 - 22:48 WIB

Mudik Kampung Halaman Istri (KAUR) Produktif, Penyuluh Agama Binduriang Sampaikan Pesan Dakwah Mimbar Jum’at

12 April 2024 - 18:56 WIB

Shalat Idul Fitri di Masjid Raya Baitul Izzah Provinsi Bengkulu, Gubernur Prof Rohidin Pesan Agar Masyarakat Teruskan Nilai Ibadah Berkualitas

10 April 2024 - 19:12 WIB

Pemkot Bengkulu Dirikan Posko Layanan Kesehatan Selama Libur Lebaran 2024

10 April 2024 - 17:47 WIB

BPBD Mencatat, 575 Warga Terdampak Banjir di Kepahiang

9 April 2024 - 23:58 WIB

Dewan Minta Pemerintah Provinsi Bengkulu Menyelesaikan Pembangunan Infrastruktur Di Daerah

8 April 2024 - 21:05 WIB

Trending di Pemerintahan