Menu

Mode Gelap

Berita 15:36 WIB

Infrastruktur Gas Bumi dan Peran PGN Penting Perkuat Ketahanan Energi Nasional di Masa Transisi Energi


					Rayendra Siddik selaku Head of Oil and Gas Comercialization Division SKK Migas Perbesar

Rayendra Siddik selaku Head of Oil and Gas Comercialization Division SKK Migas

Kilas.co.id, Jakarta – Energy security atau ketahanan energi menjadi fokus utama setiap negara di tengah dinamika global yang terkena impact dari gejolak geopolitik. Di samping mengamankan energi domestik, Indonesia pun berada di masa transisi energi sehingga tak meluputkan perhatian agar dinamika yang ada tidak berdampak signifikan terhadap upaya transisi energi. PGN sebagai Subholding Gas Pertamina berkomitmen agar bisa berperan optimal dalam hal tersebut.

Dalam sesi Energy & Economic Outlook Gasfest 2024, SKK Migas menyoroti agar perkembangan pasar gas bumi semakin meningkat untuk mengamankan Indonesia dari voltalitas energi, dan dapat seimbang dengan upaya SKK Migas bersama K3S menjaga minat investasi di sektor hulu migas. Maka dukungan PGN dibutuhkan untuk memperluas pasar agar gas terserap lebih banyak.

“Setelah infrastruktur gas bumi tersedia, PGN bisa membawa gas bumi dari Jawa Timur ke Jawa Barat yang sangat membutuhkan gas. Peran PGN juga diperlukan dalam percepatan infra WNTS-Pemping untuk membawa gas dari Natuna ke pasar domestik,” ujar Rayendra Siddik selaku Head of Oil and Gas Comercialization Division SKK Migas.

Atensi SKK Migas terhadap kebutuhan energi domestik sejalan dengan komitmen Pertamina dalam ketahanan energi nasional dan mengurangi impor. Mewakili Pertamina, Direktur Logistik & infrastruktur Pertamina Alfian Nasution berharap agar PGN sebagai Subholding Gas Pertamina dapat meningkatkan kontribusi melalui pengembangan jargas rumah tangga untuk impor LPG serta kerjasama dengan subholding lain untuk ketahanan energi.

“Cara mengurangi impor LPG dengan dengan menambahkan pengunaan gas bumi dalam engeri, termasuk rumah tangga dan industrial. Dukungan pemerintah kami harapkan untuk membangun jargas lebih banyak,” imbuh Komisaris Utama PGN, Amien Sunaryadi.

Peran gas juga menjadi tantangan bagi Pertamina di masa transisi sekaligus mengisi strategi low carbon Pertamina. Beberapa pembangkit di refinery atau upstream dicanangkan akan menggunakan gas, sehingga PGN punya peran utama untuk ketersediaan gasnya.

“Energi fosil akan mencapai puncak pada 2030, diprediksikan NRE seperti matahari angin biofuel akan memiliki 40-45% dari total kebutuhan energi. Meski demikian, kebutuhan gas tetap meningkat, sehingga menjadi potensi besar bagi PGN dalam menggarap transisi energi,” ujar Alfian.

Support dari berbagai pihak menambah masukan yang berarti bagi PGN. Apalagi untuk dalam antisipasi perkembangan makro dan global terkait energi fosil utamanya gas di masa trasisi saat ini. “Untuk itu, kami berkomitmen untuk menyambungkan infrastruktur. Wilayah timur sama sekali tidak ada pipeline, sehingga harus ada model lain yakni beyond pipeline. PGN akan senantiasa menjalankan penyaluran gas dan menjaga reability,” sambut Direktur Utama PGN Arief Setiawan Handoko. (**)

Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

Bahan Kebutuhan Pokok Menjelang Idul Adha di Kepahiang Tergolong Stabil

15 Juni 2024 - 00:04 WIB

Kopi Kepahiang Akan Menjadi Produk Unggulan Kancah Nasional di Pameran Apkasi

14 Juni 2024 - 23:45 WIB

Ibu Muda Sedang Mengandung Ditemukan Tewas Gantung Diri

10 Juni 2024 - 23:47 WIB

Longsor di Kabupaten Lebong Kembali Terulang

10 Juni 2024 - 23:16 WIB

Harga Kopi di Kepahiang Saat ini Mencapai 65 Ribu

8 Juni 2024 - 23:38 WIB

Pemrpov Bengkulu Kembali Mediasi Pemkab Lebong dan Bengkulu Utara Terkait Sengketa Batas Wilayah

6 Juni 2024 - 23:40 WIB

Trending di Bengkulu Utara