Menu

Mode Gelap

Berita 17:46 WIB

Gapura Dibuat Setiap Tujuhbelasan, Memiliki Sejarah Panjang


					Pemuda Desa Pungguk Meranti berfoto saat usai membuat gapura dalam memperingati 17 Agustus beberapa tahun lalu. (Foto: Ef) Perbesar

Pemuda Desa Pungguk Meranti berfoto saat usai membuat gapura dalam memperingati 17 Agustus beberapa tahun lalu. (Foto: Ef)

Kilas.co.id – Saat memperingati Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus sering kali kita lihat gapura berdiri gaga dipersimpangan jalan gang atau dijalan raya. Gapura yang dibuat beragam kreasi dekorasi seperti corak batu bata, corak batik bahkan gambar burung garuda. Bahan yang digunakan dalam pembuatan gapura juga berbagai macam, mulai dari bambu, kayu dan lainnya.

Ternyata setelah ditelusuri, gapura yang sering kali dibuat oleh masyarakat saat memperingati 17 Agustus memiliki sejarah. Dalam buku berjudul Gapura Untuk Rumah Tinggal dari Aditya Wardana, dahulu gapura berperan sebagai pintu masuk dan keluar atau batas wilayah dengan warna merah putih di kompleks bangunan.

Gapura juga bisa berfungsi sebagai monumen peringatan seorang tokoh atau peristiwa penting seperti gapura perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina ke-47 pada 31 Agustus 1927 di Barabai Banjarmasin.

Pada gapura tersebut tertulis: “Lang Leve de Koningin” atau “Semoga Ratu Panjang Umur”. Atau menjelang 17 Agustus, warga biasanya mempercantik gapura dengan beragam hiasan yang menunjukkan corak warna merah-putih. Pada tanggal 31 Agustus 1927 didirikan gapura Ratu Wilhelmina untuk ulang tahun ke-47 di Barabai, Banjarmasin.

Baca juga: https://www.kilas.co.id/sejarah-lomba-17-agustus/

Zaman Orde Baru, sekitar tahun 1970-an gapura pun dibuat untuk menjadi bagian perayaan kemerdekaan Indonesia bagian dari rangkaian kegiatan persiapan perayaan Kemerdekaan Indonesia yang melibatkan banyak orang untuk mencapai tujuan nasional: stabilitas negara dan pembangunan.

Dikutif dari berbagai sumber, menurut Professor Antropologi Institute of Oriental Culture University of Tokyo, Teruo Sekimoto dalam Outward Appearances :Trend, Identitas, kepentingan karya Henk Schulte Nordholt, di antara usaha mobilisasi yang paling menonjol adalah menghias tiap-tiap desa dengan membangun pagar beton, membentuk gapura yang penuh hiasan, dan merancang beragam seragam.

Namun, pendapat itu berbeda dengan pendapat sejarawan dan budayawan Betawi, Ridwan Saidi, saat diwawancara Uzone.id menjelaskan kalau gapura sebetulnya berasal dari abad abad 12 di Indonesia.

Ridwan mengatakan, Betawi sendiri memiliki arti yang sama dengan gapura. Betawi, kata Ridwan, berasal dari Bahasa Armenia yang berarti gapura.

“Karena di Kapuk Muara, dulu kan pelabuhan di Muara Angke seberang-menyebrang dengan Kapuk Muara. Di situ ada gapura tempat hunian orang-orang asli, maka orang-orang muara angke yang kebanyakan pedagang yang bisnis di situ dari berbagai dunia, ada bangsa Kaukasia nyebut gerbang itu Betawi,” terang  Ridwan.

Abad 12 mulai muncul gapura di wilayah DKI Jakarta ketika di jaman tersebut Pelabuhan Sunda Kelapa sudah menjadi pelabuhan komersil.

Namun, Ridwan mengaku tak tahu persis kapan gapura mulai dipakai untuk merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia. Setahu dia, rakyat Indonesia sendiri yang awalnya berinisiatif membuat gapura saat perayaan Kemerdekaan.

Melihat penjelasan gapura dalam Wikipedia, gapura merupakan suatu struktur yang merupakan pintu masuk atau gerbang ke suatu kawasan atau kawasan. Gapura sering dijumpai di pura dan tempat suci Hindu, karena gapura merupakan unsur penting dalam arsitektur Hindu.

Gapura juga sering diartikan sebagai pintu gerbang. Dalam bidang arsitektur gapura sering disebut dengan entrance, tetapi entrance itu sendiri tidak bisa diartikan sebagai gapura. Simbol yang dimaksudkan disini bisa juga diartikan sebuah ikon suatu wilayah atau area.

Secara hierarki sebuah gapura bisa disebut sebagai ikon karena gapura itu sendiri lebih sering menjadi komponen pertama yang dilihat ketika kita memasuki suatu wilayah.

Sutanandika, S2 Sastra Sunda di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), yang kini mengajar di SMA 1 Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menjelaskan jika gapura dalam Bahasa Sunda diartikan juga dengan lawang.

“Menariknya, secara Tomopini (ilmu mengenai asal-muasal nama suatu tempat) kata lawang digunakan lebih banyak dibandingkan gapura. Di Bogor dikenal dua daerah dengan nama Lawang Saketeng dan Lawang Gintung. Menariknya, nama-nama daerah itu menggunakan lawang dan lawang saketing yang bisa ditemukan juga di Bandung, Cirebon, Majalengka dan Surabaya,” kata pria yang membuat tesis berjudul “Hukum Adat Kasepuhan Ciptagelar : Pola Rasionalitas dina Nanjeurkeun Ketahanan Pangan” ini.

Penulis: Harnandes Ade Putra

Artikel ini telah dibaca 12 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

Dewan Ingatkan Pemudik Untuk Mengedepankan Kewaspadaan Saat Mudik Lebaran

13 April 2024 - 22:48 WIB

Mudik Kampung Halaman Istri (KAUR) Produktif, Penyuluh Agama Binduriang Sampaikan Pesan Dakwah Mimbar Jum’at

12 April 2024 - 18:56 WIB

Shalat Idul Fitri di Masjid Raya Baitul Izzah Provinsi Bengkulu, Gubernur Prof Rohidin Pesan Agar Masyarakat Teruskan Nilai Ibadah Berkualitas

10 April 2024 - 19:12 WIB

Pemkot Bengkulu Dirikan Posko Layanan Kesehatan Selama Libur Lebaran 2024

10 April 2024 - 17:47 WIB

BPBD Mencatat, 575 Warga Terdampak Banjir di Kepahiang

9 April 2024 - 23:58 WIB

Dewan Minta Pemerintah Provinsi Bengkulu Menyelesaikan Pembangunan Infrastruktur Di Daerah

8 April 2024 - 21:05 WIB

Trending di Pemerintahan