Menu

Mode Gelap

Berita Daerah 21:51 WIB

DPPKBP3A Sosialisasikan Drama dan Dialog ke Desa Guna Mengurangi KDRT


					Kepala DPPKBP3A, Linda Rospita. (Foto: AB/Kilas) Perbesar

Kepala DPPKBP3A, Linda Rospita. (Foto: AB/Kilas)

Kilas.co.id, Kepahiang – Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Kepahiang mengajak perempuan harus berani mengambil sikap supaya tidak lagi menjadi korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) atau domestic violence.

Kasus KDRT yang sering kali terjadi sejauh ini, yang menjadi korban lebih dominan adalah kaum perempuan. Motif yang melatarbelakangi KDRT bermacam-macam, muali dari ekonomi, anak dan kecemburuan seorang suami dengan sikap istrinya bergaul. Di negara hukum, tidak sewajarnya lagi KDRT terjadi.

“Kita negara hukum, setiap warga negara memiliki hak yang sama. Jadi tidak dibenarkan adanya kekerasan,” ujar Linda Rosita Kepala DPPKBP3A Kabupaten Kepahiang.

Dampak yang terjadi ketika kekerasan suami melakukan kekerasan dalam rumah tangga, dapat menyebabkan penderitaan dan kesengsaraan secara fisik, seksual, psikologis, atau penelantaran rumah tangga.

Langkah yang dilakukan DPPKBP3A guna menekan angka KDRT sejauh ini, selain kerap melakukan sosialisai, Dinas PPKBP3A juga melalui dialog dan drama tentang KDRT yang dimainkan saat digelar supervisi ke desa-desa.

“Nah, melalui drama dan dialog mudah-mudahan kaum perempuan yang ada di desa lebih mudah menyerap informasi yang disampaikan. Metode ini sebagai alternatif dari ceramah dan sosialisasi lewat selebaran,” kata Linda.

Dalam kesempatan ini, DPPKBP3A juga memperkenalkan macam-macam Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang sering kali terjadi, seperti:

Pertama, Kekerasan Fisik

Kekerasan fisik adalah setiap perbuatan yang menyebabkan adanya bekas luka baik luka ringan atau luka berat, timbul rasa sakit dan nyeri, hingga menyebabkan kematian. Adapun beberapa tindakan yang mengarah pada kekerasan fisik yaitu menjambak rambut, melukai organ tubuh dengan senjata atau alat-alat lainnya, memukul, menjedotkan kepala ke tembok, memukul, dan lainnya. Umumnya kekerasan fisik akan menimbulkan bekas-bekas luka yang bisa dijadikan bukti atas kasus KDRT. Kekerasan fisik diatur dalam Pasal 6 UU PKDRT.

Kedua, Kekerasan Psikologis

Kekerasan psikologis adalah kekerasan yang mengakibatkan seseorang kehilangan rasa percaya dirinya, hilangnya upaya untuk bertindak, adanya rasa tidak berdaya, dan menyebabkan rasa trauma yang berat. Contoh komentar negatif, merendahkan harga diri, mengancam, serta menakuti-nakuti untuk merealisasikan keinginan sang pelaku KDRT. Kekerasan psikologis dalam rumah tangga diatur dalam Pasal 7 UU PKDRT.

Ketiga, Kekerasan Seksual

Jenis kekerasan dengan unsur paksaan ini ialah segala perbuatan yang mengarah pada perbuatan seksual. Biasanya kekerasan seksual meliputi paksaan untuk melakukan hubungan seksual tanpa adanya persetujuan, hanya memperhatikan kepuasaan diri sendiri, dan melakukan seksual disertai dengan kekerasan. Kekerasan seksual diatur dalam Pasal 8 UU PKDRT.

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

Dewan Ingatkan Pemudik Untuk Mengedepankan Kewaspadaan Saat Mudik Lebaran

13 April 2024 - 22:48 WIB

Shalat Idul Fitri di Masjid Raya Baitul Izzah Provinsi Bengkulu, Gubernur Prof Rohidin Pesan Agar Masyarakat Teruskan Nilai Ibadah Berkualitas

10 April 2024 - 19:12 WIB

Pemkot Bengkulu Dirikan Posko Layanan Kesehatan Selama Libur Lebaran 2024

10 April 2024 - 17:47 WIB

BPBD Mencatat, 575 Warga Terdampak Banjir di Kepahiang

9 April 2024 - 23:58 WIB

Dewan Minta Pemerintah Provinsi Bengkulu Menyelesaikan Pembangunan Infrastruktur Di Daerah

8 April 2024 - 21:05 WIB

Anggota DPRD Provinsi Bengkulu Zulasmi Octarina Mengajak Masyarakat Menikmati Objek Wisata Lokal Saat Libur Lebaran

7 April 2024 - 21:32 WIB

Trending di Pemerintahan